Thursday, May 23, 2024

Banjir Inspirasi Karya dari Episode Momen Terbaik Gary Si Siput

Catatan 23 Mei 2024

Berkat banyaknya lukisan Witwot dari sebuah video official YouTube account NickAsia yang berjudul "Momen Terbaik Gary", aku merasakan betapa damainya perasaanku malam ini. Sebab, aku mendapatkan bukan hanya banyak tapi banyak banget inspirasi dari lukisan yang banyak itu. Aku pengen banget mengadaptasi gambar Witwot jadi karakter yang aku ciptakan sendiri, Frank Wynn! Pas tahun 2022 dulu aku udah pernah menggambar Frank Wynn dari gambar Skuitwot, tahun ini jadi pengen lagi menggambar yang seperti ini. 


Dari mungkin ada ratusan lukisan skuitwot itu, ada satu lukisan yang bikin aku terus menerus bimbang. Gambar Frank yang diinspirasi dari lukisan itu gak ya, aku gambar gak yaaaa? Apanya sih yang bikin aku bimbang itu? Lukisan yang kumaksud adalah lukisan yang lagi gigit mawar itu lhoo! (Lukisan-lukisan ini ternyata pernah muncul juga di episode yang lainnya, yaitu "Out of Picture"!)


Aku suka ragu, sebenernya boleh gak sihhh menggambar Frank Wynn lagi shirtless kayak lukisan skuitwot yang lagi gigit mawar itu? Soalnya Skuitwot alias Witwot kan bukan karakter manusia, beda dengan Frank Wynn yang manusia 100 persen! Kalo karakter manusia digambarkan shirtless itu bahayanya lumayan lah buatku. 😣😖😫😭 Eh tapikan di tahun 2022 lalu, aku pernah bikin gambar semacam alternate universe buat Frank itu dan dia bajunya itu hampir sama kayak shirtless



Friday, January 12, 2024

Ubahlah Persepsi Atas Diri Sendiri!

Catatan 12 Januari 2024

Setelah aku konsultasi dengan psikiater pada akhir Desember tahun kemarin, hari ini aku akan lanjut ke sesi ketiga terapi dengan psikolog di kampus. Sesi kali ini membahas mengenai cara melupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Ya, salah satunya adalah insiden kelinci yang entah kenapa jadi memori yang batu bangettt, susah mau lupanya. Pada pertemuan yang sebelumnya dengan psikolog di kampusku sebelum aku wisuda, kisah ini sudah pernah diceritakan sedikit karena waktu itu lebih besar porsinya kami membahas problem psikologisku yang lainnya. 

Psikolog kampusku mengatakan, aku tidak perlu melupakan total memori traumatis itu, jadi terapi berupa hypnotherapy justru harus dihindari untuk kasusku ini. Mengapa jenis terapi seperti itu harus dihindari untuk kasus ini? Beliau khawatir memori yang penting-penting justru akan ikut terlupa.

Aku hanya perlu untuk mengubah persepsi tentang peristiwa tersebut dan diriku sendiri. Syukurlah beliau langsung memahami, bahwa aku ini bukannya tidak berempati dengan keluarga sendiri atau menyamakan derajat saudara kandung dengan hewan peliharaan. Bahkan beliau menambahkan, orang-orang yang menilaiku seperti itulah yang sebenarnya tidak berempati denganku karena mereka tidak memahami benar apa yang terjadi di dalam diriku.

Bahkan, orang-orang yang tidak cukup empati denganku itu (maaf kata saja, ini psikolog aku yang bilangnya) termasuk Mamah aku. 

"Kamu jangan jadi menganggap dirimu sama seperti persepsi orang-orang atas dirimu. Ketika mereka bilang kamu gak empati, jangan malah kamu juga jadi merasa dirimu memang seperti itu," kata psikolog tersebut. 

"Sekarang sih saya sudah tahu jawabannya dari pertanyaan saya di insiden tersebut, tapi rasa sedih yang masih mengganjal selama ini karena terus terang saja, saya kecewa karena saya beranggapan Papah almarhum akan menjawabnya. Ternyata tidak terjawab dan saya dulunya tidak tahu pertanyaan itu dapat menyinggung beliau," tambahku. 

Sangat penting untuk mengakui dan memvalidasi perasaan yang hadir di dalam diriku ini meskipun saat itu memang akulah pihak yang bersalah. Jangan sampai diriku sendiri menghakimi perasaan yang hadir di dalam hatiku. Psikolog adalah orang yang tepat untuk menceritakan apapun perasaan kita. Aku harus berterus-terang mengenai apa yang kualami, jangan khawatir akan dianggap menyalahkan Papah seperti selama ini. 

"Itu kejadiannya kapan?" tanya psikolog. 

"Waktu saya kelas lima SD usia jalan sebelas tahun, udah 15 tahun yang lalu tapi masih sulit untuk lupain," jawabku. 

"Untuk pertanyaan usia segitu, semestinya dijawab dengan kalimat seperti ini, 'Adikmu itu kan dilahirkan oleh Mamahmu jadinya semua orang sedih. Kalau kelinci kan dilahirkan oleh ibunya kelinci, jadi yang sedih itu ya si ibu kelinci itu sendiri', " tanggap beliau, "Walaupun ayahmu juga merasa janggal dengan pertanyaan itu, karena hampir semua orang tidak merasakan kesedihan yang sama besar seperti itu untuk hewan, " beliau melanjutkan perkataannya.

Aku harus menyampaikan kepada almarhum Papah lewat surat imajiner tentang jawaban psikolog tadi. Saat itu aku berekspektasi dulu beliau akan memberikan jawaban yang sesuai dengan usiaku, tetapi dengan tepat. Wawasannya ayahku begitu luas, beliau mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan usia penanya tetapi tetap memenuhi kebutuhan informasi. Tidak akan pernah beliau menjawab dengan asal-asalan seperti kebanyakan orang yang aku pernah tanyai, bahkan hingga akhir hayatnya. 

Mungkin insiden ini sulit untuk dilupakan dan aku terus menerus dihantui rasa bersalah karena aku terus merasa insecure akibat terjadinya insiden tersebut. Apa yang membuatku insecure? Karena aku merasa bodoh telah menanyakan hal yang paling ganjil sedunia dan juga merasa lemah karena tidak dapat mengubah salah pahamnya orang-orang atas diriku. Persepsi orang lain atas diri kita tidak dapat kita kendalikan, tetapi persepsi kita sendirilah yang dapat dikendalikan dan jangan malah jadi persepsi yang salah atas kita itulah yang selalu menakut-nakuti kita. 

Aku memang agak aneh, tetapi tidak pernah gagal dalam diriku ini menghadirkan rasa sayang untuk anggota keluarga sendiri. 

Faktor lainnya yang membuat insiden ini terus berlanjutan membuatku sedih adalah sebuah kekecewaan karena ekspektasiku yang bertolak belakang dengan realitanya. Aku sudah mengira Papah akan menjawab pertanyaan itu sesuai dengan usiaku, tetapi jitu untuk membuatku paham. Pertanyaan itu bukan hanya tak terjawab, tapi juga dibalas dengan kemarahan beliau yang sama sekali tidak kuduga. Biar adil, aku juga di sini salah dalam merangkai kata menjadi kalimat sehingga terjadilah sebuah miskomunikasi di antara kami. 

Miskomunikasi itu melahirkan kesalahpahaman orang-orang sekitarku atas diriku. Bahkan Mamah juga salah paham soal diriku, apalagi beliau bukan saksi mata dan hanya mengetahui insiden itu lewat curhatanku! Mereka menyangka aku mengalami keterlambatan empati karena dikiranya lebih kehilangan kelinci daripada adik kandung sendiri. Aku jangan sampai melabeli diriku seperti itu juga, untuk menghilangkan insecurity ini persepsi begitu tentang diriku harus diubah. 

Psikolog yang sebelumnya pernah berkata bahwa aku punya sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan. Inilah hal yang sering memicu orang lain salah pahami aku. Kadang aku berpikir, jangan-jangan sebenarnya karena pernah terluka oleh sebuah kehilangan yang besar, maka kehilangan yang kecil juga terasa sama menyakitkan. Selama ini persepsiku sering mengatakan aku ini bodoh, ini harus diubah dengan usaha yang kuat! 💪

Wednesday, January 10, 2024

Insiden Kelinci Bukan Disebabkan oleh Autisme!

Catatan 10 Januari 2024

Ketika kecil, aku pernah dicurigai mengidap autisme. Namun, perjalanan panjang bersama psikolog dan psikiater akhirnya menjelaskan kebenaran yang lebih kompleks.

"An autistic person may have difficulty in communication; both the physical act and the meta-knowledge of the purpose of communication. People with more severe autism often have highly restricted vocabularies and subjects they are able to communicate about. They will typically not ask questions or initiate communication with others. A person with autism may develop an interest in a narrow range of subjects, and limit their communication almost exclusively to these things."


Pengalamanku Dicurigai Autis

Ketika kecil, aku dulunya dianggap pengidap autisme karena sering menunjukkan tindak-tanduk yang aneh dan tidak umum seperti memerhatikan sesuatu selama berjam-jam, misalnya mainan. Lalu masuk SD inklusi pada tahun 2004, aku mulai mengenal anak-anak yang tulen menderita autisme. Ternyata dari segi perilakunya, mereka sangat berbeda denganku sehingga tidak perlu pihak sekolah menyediakan guru pendamping (shadow teacher atau co-teacher) untukku. Akan tetapi, dengan obsesiku akan Danny Phantom ketika usiaku menginjak dua digit alias pra-remaja pada tahun 2008, aku jadi semakin dicurigai sebagai seorang anak autis karena aku begitu terpaku dengannya.

Aku sering bertanya mengenai my mental health, apakah iya aku anak autis atau bukan? Kata Mamah, penderita autisme secara umum tidak akan mempertanyakan hal seperti itu tentang dirinya. Bahkan menurut kutipan artikel di atas, penderita versi terparah dari autisme tidak akan bertanya apapun sama sekali atau hanya berbicara beberapa patah kata saja. Hal itu disebabkan oleh ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi.

Sementara anak dengan spektrum autisme yang lebih ringan biasanya terus menerus membahas mengenai topik kesukaannya kepada orang lain dan tidak ada inisiatif sendiri untuk bertanya kepada orang lain. Mereka tidak merasa perlu tahu hal-hal yang di luar minatnya, jadi mereka tidak akan bertanya apapun. Lalu, mereka tidak peduli dengan apa yang menjadi ketidaktahuan mereka. Jika mereka dimisalkan dengan aku, ibaratnya aku hanya ingin tahu tentang Danny Phantom atau apapun yang menjadi minatku saat itu, dan tidak akan penasaran dengan sikapnya orang-orang di sekitarku.

Mengapa Aku Bukan Anak Autis

Walaupun ciri khas autisme pada kalimat terakhir paragraf di atas juga timbul di dalam diriku (terus-menerus membicarakan tentang apa yang kusukai), ternyata tetap ada perbedaan yang jelas antara aku dan mereka. Penderita autisme seperti itu tidak akan pernah bertanya duluan kepada orang lain, mereka akan berbicara secara satu arah. Ini jelas adalah sebuah kontras dengan Insiden Kelinci! Meskipun terdengar sebodoh apapun kalimat yang kuucapkan waktu itu, insiden tersebut terjadi justru karena aku bertanya kepada Papah yang ternyata pertanyaannya menyinggung perasaan beliau dan itu tidak lazim untuk ditanyakan. 

Meskipun kontennya sepintas terdengar absurd dan tidak menggunakan logika, kalimat yang kuucapkan berupa kalimat tanya. Dulunya aku curiga kalimat tanya tersebut terlontar begitu saja dari mulutku karena aku ini adalah salah seorang penderita autisme. Kini, kecurigaan itu terpatahkan sudah karena anak autis tidak ada inisiatif apapun untuk mencari tahu akan suatu hal dengan bertanya kepada orang lain! Hasil pemeriksaan psikolog dan psikiater juga telah mementahkan asumsi orang-orang atas diriku. 


Peran Insiden Kelinci dalam Kesehatan Mentalku

Penderita autisme biasanya tidak peka akan sekelilingnya. Menurut salah satu dari tiga psikolog tempatku terapi, penderita kelainan mental seperti itu malahan tidak akan merespon apabila dikejutkan. Insiden kelinci terjadi karena aku noticed sikap orang banyak itu berbeda denganku dalam menanggapi kabar dari Eyang Putri (yang menurutku adalah kabar duka). Jika aku mempertanyakan sikap orang-orang, itu artinya aku memerhatikan sesuatu yang terjadi di antara kami.

"Anak autis itu gak akan ngeh jika sikapnya mereka itu tidak wajar atau jika mereka tidak memahami banyak hal, mereka tidak akan peduli dengan apapun yang terjadi di sekelilingnya. Sedangkan kamu masih bisa peka sama orang lain," jelas Mamah ketika aku masih SD dulu. 

Seperti yang tadi sudah disebutkan, anak autis itu tidak ada rasa ingin tahu tinggi terhadap perilaku manusia lainnya. Satu pertanyaan yang diajukan olehku di usia pra-remaja kepada Papah itu, timbul karena keingintahuanku tentang bagaimana orang-orang di sekeliling bersikap. Ketika aku hanya sendirian yang menangis sedih karena kehilangan kelinci, aku pada saat itu penasaran mengapa aku hanya sendirian yang menangis. Keluargaku di rumah hanya berduka untuk kehilangan anggota keluarga saja dan tidak sepertiku yang juga merasa kehilangan untuk hewan peliharaan, hal itu membuatku berpikir bahwa "manusia dan hewan itu pasti memiliki setidaknya satu perbedaan yang mendasar". 

Umurku yang pada September 2008 itu akan menginjak sebelas tahun bulan berikutnya, masih belum dapat menemukan sendiri apa yang sebenarnya membedakan antara dua makhluk hidup itu. Walaupun, keduanya memiliki akhir kehidupan yang sama. Aku ingin mendapatkan jawaban dari Papah yang lebih pasti mengenai hal itu. Kemampuanku untuk memilih diksi dan merangkai kata yang saat itu masih jauh dari kata mahir menjadikan kalimat pertanyaannya salah yang keluar, jawaban yang kunantikan itu pun tidak kudapatkan dari ayahku.

Akibatnya, aku disangka sebagai anak dengan autisme karena disangka kesulitan untuk peka dan berempati dengan musibah kehilangan yang dialami keluargaku hampir dua tahun sebelumnya (pada tahun 2006). Kesedihan yang tadinya karena kematian kelinci, berubah menjadi kesedihan yang disebabkan oleh asumsi dari keluargaku sendiri. Mengapa bisa jadi timbul kesimpulan di benak mereka bahwa aku tidak dapat merasakan sakit akibat wafatnya adikku sendiri? Justru karena pernah terluka dengan kehilangan yang besar sebelumnya, maka kehilangan yang lebih kecil juga terasa hati bagiku. 

Saat adikku wafat, aku menangis dengan cara yang sama—air mataku mengalir tanpa henti, dan dadaku terasa sesak. Perasaan itu kembali hadir saat kelinciku mati, meskipun skalanya berbeda. Namun, luka lama membuat rasa kehilangan yang lebih kecil tetap terasa perih bagiku. Bagi orang lain, mungkin kehilangan hewan peliharaan hanyalah hal kecil. Namun bagiku, luka kehilangan yang pernah kualami membuat setiap perpisahan terasa lebih berat. Aku tidak hanya menangisi kelinci itu, tetapi juga kenangan yang seolah kembali membuka luka lamaku.

Ketika adikku wafat, semua orang menangis bersamaku. Tangisku dianggap wajar, bahkan sebagai bentuk kasih sayangku. Tapi saat kelinciku mati, tangisku dipandang aneh, seolah-olah aku tidak mengerti apa itu kehilangan yang sebenarnya. Padahal, bagiku, rasa kehilangan itu sama nyata.

Hubungan Gangguan Kecemasan dan Autisme

Kejanggalan pemikiranku sudah clear bahwa bukan disebabkan oleh faktor autisme. Sempat psikolog di kampusku menduga bahwa aku pengidap ADHD, tetapi psikiater tidak mengatakan hal yang sama. Beliau mendiagnosa aku mengidap anxiety atau kecemasan, yang dapat berujung pada depresi. Gejala-gejala mirip autisme yang muncul pada diriku sebenarnya mungkin lebih tepat jika disebut sebagai gejala salah satu gangguan kecemasan.

Apakah Insiden Kelinci yang terjadi ada kaitannya dengan anxietas? Aku hanya berharap akan mendapatkan jawabannya dari sesi terapi selanjutnya dengan psikolog di kampusku. Pastinya insiden pada tanggal 1 Ramadhan 1429 sebenarnya sudah dipicu sekitar satu atau dua bulan sebelumnya. Setelah adikku wafat, keluargaku berkunjung ke rumah Wa Aden(abang Papah) di Cirebon, lalu satu tahun setengah kemudian kami mengunjungi rumah yang sama untuk mengadakan khitanan bersama.

Kelinci itu diberikan oleh keluarga tersebut ketika mereka gantian mengunjungi keluargaku di Bandung. 

Sebenarnya hal yang membuatku teringat kembali memori kelam adikku itu bukanlah kematian kelincinya, tetapi semua hal tentang keluarga abangnya Papah(?)

Menangis karena kehilangan, baik besar maupun kecil, adalah tanda bahwa aku mampu merasakan kasih sayang dan keterikatan. Justru pengalaman kehilangan adikku yang membuatku lebih peka terhadap rasa duka, bukan kurangnya empati seperti yang diasumsikan keluargaku.

The Curious Connection Between Lou (UglyDolls) and Rancis Fluggerbutter (Wreck-It Ralph)

January 17, 2025 When it comes to animated characters, some connections are so striking that fans can’t help but imagine shared universes an...